PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melakukan beraneka proyek strategis untuk melindungi keberlanjutan utilisasi kekuatan domestik.

Setidaknya, emiten berkode PGAS ini butuh dana investasi USD4 miliar hingga USD5 miliar atau setara Rp58 triliun-Rp72,5 triliun (kurs Rp 14.500 per USD) untuk membangun infrastruktur gas hingga 2026.

Pembangunan infrastruktur gas ini layaknya pipa Fill Rite Flow Meter gas masuk ke dalam masterplan hingga th. 2026. “Kebutuhan investasi hingga 2026, kami perlu USD4 billion-USD5 billion (miliar)

Suko menjelakan, untuk mencukupi keperluan dana investasi tersebut, PGN dapat menggandeng mitra, supaya investasi bisa ditanggung bersama.

“Tapi kami cari partner untuk dilakukan bersama-sama,” katanya.

Dengan pengelolaan infrastruktur gas bumi sebesar 97 %, PGN mempersiapkan infrastruktur gas bumi di wilayah barat dengan dominan infrastruktur pipa dan wilayah timur dengan infrastruktur non pipa yang bisa melayani gas bumi baik dalam wujud gas pipa, Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquified Natural Gas (LNG).

“Kami bikin masterplan infrastruktur gas untuk mengurangi impor LPG dan impor BBM nasional. Kita mengerti impor LPG kami benar-benar tinggi,” ujarnya.

Dalam menjalankan rancangan pengembangan infrastruktur gas bumi terintegrasi tersebut PGN menggulirkan lewat Program Gasifikasi Nasional Sapta PGN yang dapat melayani 7 sektor pemakai gas bumi dan juga visi menuju international dengan pengelolaan LNG terintegrasi ke wilayah-wilayah pasar di Kawasan Asia maupun internasional.

Salah satu proyek utama berasal dari program Sapta PGN yakni PGN Sayang Ibu fungsi pemenuhan gas bumi untuk keperluan rumah tangga.

Tahun ini, menjalankan penugasan berasal dari pemerintah untuk mmbangun 127.776 SR jargas dengan dana APBN 2021. Selain itu, inisasi perusahaan dapat dilakukan dengam membangun Jargas Mandiri COCO sebanyak 50.000 SR di th. 2021.

“Peningkatan gas bumi di sektor rumah tangga diinginkan bisa mewujudkan upaya pemerataan kekuatan yang efisien di beraneka wilayah dan membantu pemerintah dalam rangka pengurangan kekuatan impor,” katanya.

PGN juga membantu program RDMP Kilang sesuai dalam jangka kala menengah yakni pembangunan layanan Small Land-Based LNG Regasification Terminal di Cilacap dan pembangunan Pipa Gas Senipah ke Kilang RU V Balikpapan.

Proyek Terminal Regasifikasi LNG diestimasikan bisa menghasilkan volume ramp up hingga dengan 111 MMSCFD. Sedangkan Pipa Senipah-Balikpapan diestimasikan dalam membantu penyaluran gas untuk efisiensi kilang dengan volume ramp up hingga 194 MMSCFD. Keduanya ditargetkan beroperasi pada th. 2023.

Suko Hartono mengutarakan bahwa proyek ini bertujuan bisa sedia kan supply dan infrastruktur LNG yang terintegrasi untuk pemenuhan keperluan gas di RU IV Cilacap maupun RU Balikpapan secara tepat mutu, tepat waktu, dan tepat biaya.

 

“Pembangunan infrastruktur gas ditargetkan untuk mencukupi keperluan Kilang Balikpapan lewat pipa gas Senipah – Balikpapan. Sedangkan gasifikasi Kilang Cilacap dilakukan dengan gunakan portofolio PGN dalam mengelola LNG sebagai persiapan PGN going international dan entry point pengambangan pasar LNG retail di Jawa Tengah bagian selatan,” mengerti Suko.

Suko meyakinkan bahwa PGN berkomitmen untuk konsisten mengawal pelaksanaan proyek Kilang ini supaya bisa berguna maksimal bagi perkembangan industri dalam negeri, optimalisasi sumber kekuatan domestik, dan penguatan investasi migas nasional.

“PGN Subholding Gas membantu Program RDMP Kilang sebagai proyek Strategis Nasional dan mengembangan infrastruktur untuk menambah pemakaian gas bumi dan membantu upaya pengurangan kekuatan impor,” tutup Suko.

By toha